Di tengah derasnya modernisasi dapur dengan peralatan serba listrik dan otomatis, ada benda-benda tradisional yang tetap bertahan. Mereka bukan sekadar alat, tetapi penjaga rasa, pengantar kenangan, dan bukti bahwa kearifan lokal selalu memiliki tempat di meja makan kita.
Di banyak rumah dan dapur jajanan nusantara, peralatan tradisional masih digunakan bukan karena ketinggalan zaman, tetapi karena fungsi dan nilai rasanya memang tidak tergantikan. Warisan Jajan merangkum beberapa peralatan dapur tradisional yang masih setia menemani proses memasak hingga kini—dan alasan mengapa keberadaannya tetap relevan.
1. Cobek & Ulekan – Penjaga Rasa Autentik
Cobek batu atau tanah liat bukan sekadar wadah untuk menghaluskan bumbu. Proses mengulek memberikan gesekan alami yang menghasilkan aroma lebih kuat dibanding blender.
Mengapa masih bertahan?
- Rasa lebih tajam dan kompleks
- Tekstur bumbu lebih menyatu
- Tidak menghasilkan panas seperti blender
Tak heran sambal, bumbu pecel, hingga bumbu rujak tetap dibuat dengan ulekan agar cita rasanya maksimal.
2. Kukusan Anyaman Bambu – Rahasia Tekstur Lembut
Kukusan bambu mampu menciptakan uap panas yang stabil dan alami. Jajanan seperti kue lapis, serabi, hingga apem masih sering dikukus menggunakan alat ini.
Kelebihannya:
- Menyerap kelembapan berlebih
- Memberi aroma khas bambu
- Hasil kukusan lebih lembut dan tidak basah
Kukusan stainless modern memang praktis, tetapi rasa dan aromanya tidak sepenuhnya sama.
3. Serutan Kelapa Tradisional – Penentu Kelembutan Santan
Meski kini tersedia kelapa parut instan, banyak pedagang jajanan tradisional tetap memarut kelapa menggunakan serutan manual.
Alasannya:
- Serat kelapa lebih halus
- Santan lebih kental dan segar
- Rasa gurihnya lebih natural
Santan segar adalah kunci kelezatan kue putu, klepon, opak, hingga kolak.
4. Tungku Tanah Liat – Pemasak Rasa Berlapis
Tungku atau pawonan masih digunakan di daerah tertentu, terutama dalam proses pembuatan jajanan seperti jale, serabi, atau gethuk.
Keunggulannya:
- Panas menyebar perlahan dan merata
- Menghasilkan aroma “asap halus” yang khas
- Lebih hemat bahan bakar
Tungku tidak hanya memasak; ia menciptakan rasa yang sulit ditiru oleh kompor modern.
5. Wajan Besi & Kuali Tanah – Kunci Renyah dan Gurih
Wajan besi tetap digemari untuk menggoreng jajanan seperti cakwe, odading, dan cireng. Sementara kuali tanah liat cocok untuk masakan bersantan atau gula merah.
Keunggulannya:
- Suhu panas stabil
- Tidak mudah lengket
- Menghasilkan karamelisasi alami
Dapur modern mungkin penuh teflon, tetapi wajan besi tetap juaranya dalam menciptakan tekstur renyah yang merata.
6. Tampah atau Nampan Bambu – Tempat Menyajikan dan Meniriskan
Dari menjemur keripik hingga menata jajanan pasar, tampah bambu adalah alat multifungsi yang masih digunakan secara luas.
Mengapa masih bertahan?
- Sirkulasi udara baik
- Cepat mengeringkan bahan
- Ringan dan alami
Keripik pisang, rengginang, hingga rempeyek banyak diproses menggunakan tampah.
Mengapa Peralatan Tradisional Tidak Tergantikan?
Modern tidak selalu lebih baik. Banyak peralatan tradisional diciptakan berdasarkan pengalaman turun-temurun. Setiap alat dibuat sesuai karakter bahan dan kebutuhan memasak di nusantara.
Beberapa alasannya:
✔ Memberikan hasil masakan lebih autentik
✔ Mempertahankan tekstur dan aroma alami
✔ Ramah lingkungan dan tahan lama
✔ Mengandung nilai budaya dan historis
Peralatan tradisional bukan hanya alat dapur, tetapi bagian dari identitas kuliner Indonesia.
Di tengah pesatnya inovasi dapur modern, keberadaan peralatan tradisional membuktikan bahwa warisan budaya tidak mudah tergerus. Selama cita rasa tetap menjadi prioritas, cobek, kukusan bambu, dan tungku tanah liat akan selalu punya tempat di dapur Indonesia.
Mari terus merawat peralatan tradisional dan menjadikannya bagian dari perjalanan kuliner kita—karena setiap jajanan lezat selalu dimulai dari proses yang penuh cinta dan kearifan lokal.dan jangan lupa mampir di https://warisanjajan.my.id/ terkhususnya artikel mengenai Resep Jajanan Tradisional yang Mudah Dibuat di Rumah
